Rabu, 17 Agustus 2011

PRO EMERGENCY

“ 2010 AHA Guidelines”: Merubah ABC menjadi CAB !!<



Kompresi dada harus mejadi langkah pertama dalam menangani henti jantung (cardiac arrest). Oleh karena itu, American Heart Association (AHA) sekarang merekomendasikan bahwa prosedur resusitasi jantung paru (RJP) dirubah dari A-B-C (Airway, Breathing, Circulation) menjadi C-A-B (Circulation, Airway, Breathing).

Perubahan tersebut di dokumentasikan pada :’the 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care”. Pedoman baru ini menggantikan pedoman RJP sebelumnya yang dikeluarkan pada tahun 2005.

2010 AHA Guidelines for CPR and ECC didasarkan pada tinjauan literatur resusitasi terkini dan komprehensif yang pernah dipublikasikan. Selain itu juga dari penelitian terbaru yang mencakup informasi dari 356 Ahli resusitasi dari 29 negara yang di telaah, di analisa, dievaluasi, diperdebatkan dan dibahas melalui penelitian dan hipotesis dalam rapat, telekonfrens, dan sesi online (webinar) selama periode 36 bulan sebelum konsensus tahun 2010.

Menurut AHA, penekanan dada (kompresi) harus segera dilakukan kepada siapa saja yang tidak ada respons (tidak sadar) dan tidak bernafas secara normal. Pada menit-menit pertama oksigen masih ada dalam paru-paru dan aliran/pembuluh darah, sehingga kompresi dada sesegera mungkin akan memfasilitasi distribusi oksigen ke otak dan jantung lebih cepat. Sebelumnya, prosedur RJP / CPR dimulai dengan membuka jalan napas (A) bukan dengan kompresi dada (C) sehingga menyebabkan keterlambatan signifikas selama 30 detik.

“Selama lebih dari 40 tahun, pelatihan RJP telah menekankan pedoman ABC, yang memerintahkan semua orang untuk membuka jalan napas korban dengan menengadahkannya, menutup hidung dan pernapasan kedalam mulut korban dan memberikan kompresi dada.” kata Michel R. Sayre (Ketua Komite Kegawatdaruratan Kardiovaskuler AHA), dia juga mengatakan,”Pendekatan ini menyebabkan keterlambatan yang signifikan, kompresi dada harus sesegera mungkin dilakukan agar darah yang kaya oksigen segera diedarkan,” tambahnya.
Pedoman baru juga merekomendasikan bahwa selama melakukan RJP, penolong meningkatkan kecepatan komprsi dada dengan kecepatan paling sedikit 100 kali per menit, selain itu tekanan harus dibuat lebih dalam, kedalaman minimal 2 inchi pada orang dewasa dan anak-anak. Sedangkan pada bayi 1.5 inchi.

Pada saat melakukan RJP penolong harus memberi kesempatan agar dada korban agar kembali ke semula sebelum melakukan penekanan berikutnya agar kompresi lebih efektif. Kompresi harus dilakukan selama mungkin tanpa menggunakan ventilasi berlebihan.

Di Amerika 911 sekarang diarahkan untuk memberikan intruksi tegas agar penekanan dada dapat segera dilakukan ketika diduga serangan jantung.

Pedoman baru juga merekomendasikan secara secara tegas bahwa “Dispatcher / Operator Gawat Darurat” harus menginstruktikan kepada penolong yang tidak terlatih agar melakukan RJP meskipun hanya dengan penekanan dada saja (Hands Only CPR / Chest Compression Only) untuk dewasa yang tidak berespons, tidak bernapas atau bernapas tidak normal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar