Senin, 04 April 2011

EMPATY PERAWAT SEMBUHKAN PASIEN

Tidak jarang anda mendengar baik itu dari surat kabar maupun kerabat anda, "Di Rumah Sakit A, perawatnya ramah-ramah, jadi sewaktu dulu aku sakit, belum minum obat aja rasanya sakitnya tinggal separuh" atau "Ketika aku dulu dirawat di Rumah Sakit B, perawatnya galak dan judes, rasanya penyakitku justru tambah parah saja" atau juga "Lebih baik aku berobat ke Rumah Sakit X yang sedikit lebih mahal tetapi perawatnya murah senyum daripada ke Rumah Sakit Y yang lebih murah tetapi perawatnya menderita ‘sakit gigi’ (sulit untuk senyum)". Tidak dipungkiri fenomena tersebut tentunya akan sangat berpengaruh terhadap citra rumah sakit itu sendiri di mata masyarakat.

Dewasa ini perhatian perawat sudah beralih dari pendekatan yang berorientasi medis kepada pendekatan yang memusatkan perhatian pada pasien. Peran perawat tidak hanya berpusat pada fungsi fisik namun meluas pada aspek psikis pasien (diadaptasi dari buku yang ditulis Ellis, dkk. yang berjudul Interpersonal Communication in Nursing) Perawatan yang efektif dapat dicapai bila perawat menaruh minat terhadap pasien tanpa membedakan status sosial ekonominya.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, dijelaskan bahwa tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1996 tentang peraturan Tenaga Kesehatan, dijelaskan bahwa perawat termasuk tenaga kesehatan jenis tenaga keperawatan.

Frekuensi interaksi perawat dengan pasien tergolong paling sering dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang lainnya, maka keberadaan perawat di rumah sakit sangat penting pula dalam memegang peranan atas kelangsungan kondisi pasien.

Seorang perawat dengan empatinya akan membantu pasien. Perawat berkeharusan bersikap baik dan santun kepada seluruh pasien, baik itu bayi yang baru lahir sampai orang lanjut usia sekalipun. Sikap ini didasarkan pada pemikiran, pilihan sikap yang benar dan tepat dalam segala situasi, yaitu tempat dan waktu. Perawatan yang efektif mencakup pemberian perhatian kepada kebutuhan emosi sang pasien. Sikap perawat kepada pasien disesuaikan dengan usia pasien. Hal ini menguatkan bahwa kemampuan untuk dapat berempati sangat diperlukan sekali oleh perawat agar perawatan lebih efektif.

Empati adalah suatu perasaan dalam diri seseorang yang sesuai dengan apa yang dirasakan oleh orang lain secara psikologis. Empati memiliki beberapa fungsi yang dapat membantu seseorang dalam bersosial, berinteraksi, berkomunikasi, dan bersikap di lingkungan masyarakat.

Florence Nightiangel, tokoh dunia yang mengubah persepsi dunia bahwa perawat itu merupakan pekerjaan yang sangat mulia dan terhormat. Sebagai perawat dibutuhkan kemampuan khusus yang tidak semua orang memilikinya, yaitu kemampuan empati. Perawat yang memiliki empati diharapkan memiliki kemampuan empati, yaitu kemampuan untuk melakukan aksi komunikasi secara sadar kepada pasien sehingga dapat memahami dan merasakan suasana hati pasien tersebut. Perilaku yang muncul dari tiap perawat terhadap pasien berbeda-beda, hal ini terkait dengan kemampuan empati perawat itu sendiri, adapun yang mempengaruhi kemampuan empati, yaitu: pikiran yang optimis, tingkat pendidikan, keadaan psikis, pengalaman, usia, jenis kelamin, latar belakang sosial budaya, status sosial, dan beban hidup. Faktor-faktor tersebut diperlukan untuk menunjang perawat dalam meningkatkan kemampuan empati.

Kemampuan empati terkadang memang tidak dapat langsung muncul dari diri seorang perawat begitu saja, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan empati, yaitu:

Peduli, perhatian dari perawat kepada pasiennya, sejauh mana komunikasi dapat terbentuk sehingga pasien dapat merasa nyaman karena diperhatikan.

Berguru, dengan belajar kepada mereka yang telah nyata dianggap memiliki kemampuan empati yang tinggi, misalnya seorang rohaniawan, psikolog, maupun dokter di rumah sakit perawat tersebut mengabdi.

Berlatih, sepandai dan sepintar apapun kalau tidak pernah berlatih maka akan kalah dengan mereka yang masih pemula tetapi rutin untuk rajin berlatih mengasah kemampuan empatinya.

Berbagi pengalaman, ingatlah bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik dan melalui pengalaman kita dapat menjadi bijaksana, dengan berbagi pengalaman dengan sesama rekan sekerja maka diharapkan perawat akan lebih tangguh dan hebat.

Dengan begitu maka perawat dapat meningkatkan kemampuan empatinya agar dapat lebih mengerti, memahami, dan menghayati tidak hanya kondisi fisik namun juga kondisi psikis pasien karena pada dasarnya pasien yang datang untuk berobat ke rumah sakit tentunya dengan tujuan memulihkan kondisi fisiknya yang sakit, padahal apabila kondisi fisik seseorang mengalami suatu keadaan sakit, maka akan mempengaruhi kondisi psikisnya, biasanya pasien akan lebih labil emosinya. Tenaga kesehatan khususnya perawat harus peka dengan keadaan seperti ini, perawat tidak hanya menangani kondisi fisik dari pasien tetapi kondisi psikisnya juga, dengan berempati kepada pasien maka diharapkan pasien dapat sembuh lebih cepat.

Dengan kemampuan empati maka perawat memiliki kemampuan untuk menghayati perasaan pasien. Kemampuan empati seorang perawat dipengaruhi oleh kondisi perawat itu sendiri. Perawat perlu menjaga kondisi kesehatan fisik dan psikis, karena keduanya saling mempengaruhi satu sama lain.

Untuk dapat memiliki kemampuan empati, seorang perawat harus mampu bersosialisasi. Kebanyakan perawat memiliki sifat extovert (terbuka), maka akan lebih mudah dalam menangani pasien, karena pasien merasa nyaman dengan keberadaannya.

Sekarang ini sudah cukup banyak pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kualitas performance perawat, pihak rumah sakit diharapkan dapat tanggap dalam meningkatkan manajemen terhadap tenaga kesehatan terutama perawatnya. Pengawasan dan evaluasi kinerja secara rutin akan sangat baik dilakukan oleh pihak rumah sakit melalui bagian HRD (Human Resource Development)-nya. Begitu juga perhatian pihak rumah sakit terhadap kesejahteraan perawatnya, hal ini sangat penting karena secara langsung mempengaruhi kinerja perawat itu sendiri.

Kemampuan empati perawat hendaknya disertai juga keramahan kepada keluarga atau kerabat pengantar atau penunggu dari pasien lebih lagi kepada setiap pengunjung rumah sakit, karena sesungguhnya citra rumah sakit ditentukan oleh sikap yang diperlihatkan sumber daya tenaga kesehatan terutama perawat sebagai ujung tombak rumah sakit. Semoga dengan meningkatnya kualitas tenaga kesehatan terutama perawat di Indonesia ini maka diharapkan akan meningkatkan pula kesehatan dan kesejahteraan seluruh warga. Hidup perawat!!

Skripsi

PENGARUH KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT TERHADAP KEPUASAN PASIEN DI RUMAH SAKIT HAJI MEDAN SALMAN NUR
091121027

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2010
Judul : Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat terhadap kepuasan
pasien di Rumah Sakit Haji Medan.
Nama : Salman Nur
Jurusan : Sarjana Keperawatan
Tahun : 2011

Medan, Januari 2011
Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara telah Menyetu-jui Skripsi ini sebagai bagian dari persyaratan kelulusan Sarjana Keperawatan (S.Kep).
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat Terhadap Kepuasan Pasien di Rumah Sakit Haji Medan 2010 “.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan dari Skripsi ini, baik dalam uraian, isi, serta tata bahasanya. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan di masa yang akan datang.
Untuk itu perkenankan penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada :
1. Dr. Dedi Ardinata, Mkes. Selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan.
2. Salbiah,SKp, M.Kep selaku Dosen Pembimbing I dalam penyusunan Skripsi ini.
3. Nurafidarti, SKp, M.Kep. selaku Dosen Pembimbing II dalam penyusunan Skripsi ini.
4. Dr. Yulinda Elvi Nasution selaku Ka.Bid. Pendidikan dan Penelitian Rumah Sakit Haji Medan.
5. Seluruh staf dosen pengajar di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Sumatra Utara yang telah banyak memberikan ilmu dan bimbingan kepada penulis selama mengikuti pendidikan.
6. Rekan – rekan mahasiswa-Mahasiswi Fakultas Ilmu Keperawatan kelas 1/B Universitas Sumatra Utara yang turut membantu dan memberikan motivasi kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak khususnya bagi penulis sendiri. Amin.


Medan, Januari 2011

Hormat Saya,




Penulis
Judul : Pengaruh Komunikasi Terapeutik terhadap kepuasan
pasien di Rumah Sakit Haji Medan.
Nama : Salman Nur
Jurusan : Sarjana Keperawatan
Tahun Akademik : 2009/2010


ABSTRAK
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar antara perawat dan pasien bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana pengaruh komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien dalam pelayanan asuhan keperawatan di ruangan rawat inap Rumah Sakit Haji Medan. Penelitian ini menggunakan rancangan study korelasi dengan pengambilan sampel 10% dari jumlah populasi sebanyak 64 orang pasien rawat inap di Rumah Sakit Haji Medan. Pengumpulan data dilaksanakan pada tanggal 15 maret 2010 sampai dengan 25 agustus 2010. Hasil penelitian didapatkan bahwa penerapan komunikasi terapeutik di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Haji Medan sudah optimal. Ditinjau dari adanya keterbatasan yang dimiliki dalam diri perawat seperti respon dan empati pada sebahagian perawat yang masih kurang dan belum adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) mengenai Komunikasi Terapeutik. Untuk kepuasan pasien yang dirawat inap di Rumah Sakit Haji Medan, pada umumnya pasien merasa sangat puas atas pelayanan yang diberikan oleh perawat bila ditinjau dari respon dan empati perawat ketika berinteraksi dengan pasien. Berdasarkan uji analisis Spearman’n correlation pada penelitian ini menunjukkan nilai r = 0,004. Dan P= 0,972 yang berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan bagi perawat meningkatkan pelaksanaan komunikasi terapeutik yang sudah berjalan dengan baik dan bagi pihak Rumah Sakit membuat SOP komunikasi terapeutik, meningkatkan pengetahuan perawat dengan cara mengikutsertakan para perawat dalam seminar-seminar keperawatan tentang komunikasi terapeutik, memberikan pelatihan untuk meningkatkan sikap empati perawat terhadap pasien, dan memberikan kesempatan perawat melanjutkan pendidikannya.
Kata kunci : Komunikasi Terapeutik, Kepuasan pasien
Daftar Pustaka : 17 ( 1994-2007 )





BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Menurut Kotler (1988) kepuasan adalah tingkat kepuasan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya. Upaya untuk mewujudkan kepuasan pelanggan total bukanlah hal yang mudah, Mudie dan Cottom (1997) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan total tidak mungkin tercapai, sekalipun hanya untuk sementara waktu (Kempul, 2009). Selain itu Purwanto (2007) menjelaskan bahwa kepuasan dapat dirasakan siapa saja dalam menerima pelayanan kesehatan. Hal ini juga terjadi pada pasien dalam menerima jasa pelayanan di Rumah Sakit.
Menurut pendapat Budiastuti (2002) mengemukakan bahwa pasien dalam mengevaluasi kepuasan terhadap jasa pelayanan yang diterima mengacu pada be-berapa faktor, antara lain mengacu pada kualitas produk atau jasa. Pasien akan merasa puas bila hasil evaluasi mereka menunjukkan bahwa produk atau jasa yang digunakan berkualitas.
Selain itu persepsi pasien terhadap kualitas poduk atau jasa dipengaruhi oleh dua hal yaitu kenyataan kualitas poduk atau jasa yang sesungguhnya dan komunikasi perusahaan terutama iklan dalam mempromosikan rumah sakitnya. Kualitas pelayanan memegang peranan penting dalam industri jasa. Pasien akan merasa puas jika mereka memperoleh pelayanan yang baik atau sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu faktor emosional juga mempengaruhi pasien yang merasa bangga dan yakin bahwa orang lain kagum terhadap dirinya bila memilih rumah sakit yang sudah mempunyai pandangan “rumah sakit mahal”. Persepsi pasien terhadap hal ini cenderung akan mempengaruhi tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
Ada beberapa jenis – jenis pelayanan di rumah sakit yang kualitasnya selalu dinilai oleh pasien, dan salah satunya adalah pelayanan keperawatan. Tim Keperawatan merupakan anggota tim kesehatan garda depan yang menghadapi masalah kesehatan klien selama 24 jam secara terus menerus (Aljafar, 2009). Tim pelayanan keperawatan memberikan pelayanan kepada klien sesuai dengan keyakinan profesi dan standar yang ditetapkan. Hal ini ditujukan agar pelayanan keperawatan yang diberikan senantiasa merupakan yang aman serta dapat memenuhi kebutuhan dan harapan klien. Agar kebutuhan pasien terpenuhi, salah satu tindakan yang diharapkan adalah perawat dapat melakukan hubungan terapeutik dengan pasien. Untuk membina hubungan yang terapeutik perawat harus menguasai tehnik dan sikap komunikasi terapeutik selama memberikan asuhan keperawatan kepada pasien (Kelliat, 1996).
Komunikasi terapeutik adalah suatu pengalaman bersama antara perawat - klien yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien. Seorang perawat tidak akan dapat mengetahui kondisi klien jika tidak memiliki kemampuan menghargai keunikan klien. Tanpa mengetahui keunikan masing-masing, terutama terkait ke-butuhan klien, perawat juga akan kesulitan memberikan bantuan kepada klien dan mengatasi masalah klien. Sehingga perlu metode yang tepat dalam mengkomodasi agar perawat mampu mendapatkan pengetahuan yang tepat tentang pasien. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan perawat dapat menghadapi, mengpersepsikan, bereaksi dan menghargai keunikan klien (Mundakir, 2006).
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan peneliti di rumah sakit Haji Medan, dengan tehnik wawancara pada 10 pasien ditemukan beberapa keluhan dari pasien. Keluhan tersebut antara lain terkait dengan buruknya pelayanan perawat, sedikitnya kunjungan dokter pada pasien rawat inap. Buruknya pelayanan peawat yang dirasakan pasien terutama dari sikap, keramahan dan kemampuan komunikasi yang kurang santun.
Hasil penelitian melalui survey CRC (Citizen Report Card) ICW pada bulan November 2009. dengan sampel 738 pasien miskin (pasien rawat inap dan jalan yang memegang kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Keluarga Miskin (Gakin) dan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM)) di 23 rumah sakit yang ada di lima daerah (Jakarta, Bogor Depok, Tanggerang, Bekasi), menunjukkan bahwa pasien miskin menyatakan bahwa pengurusan administrasi rumah sakit masih rumit dan berbelit-belit (28,4 persen) dengan antrian yang panjang (46,9%). Pasien rawat inap misalnya mengeluhkan rendahnya kunjungan dan disiplin dokter terhadap mereka. Sedangkan pasien perempuan rawat inap mengeluhkan sikap perawat yang kurang ramah dan simpatik terhadap mereka (65,4%) (KPK Online Monitoring System, 2009).



Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya kita dapat melihat bahwa ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan salah satunya dipengaruhi oleh faktor komunikasi terapeutik perawat daalam memberikan asuhan keperawatan. Banyak yang mengira atau berpendapat bahwa komunikasi te-rapeutik identik dengan senyum dan bicara lemah lembut. Pendapat ini tidak salah tetapi terlalu menyederhanakan arti dari komunikasi terapeutik itu sendiri, karena inti dari komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan untuk terapi (Suryani, 2005).
Adapun manfaat dari komunikasi terapeutik itu sendiri adalah membantu pasien dan untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya dengan hal – hal yang diperlukan. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan egonya. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri dalam hal peningkatan derajat kesehatan. Mempererat hubungan atau interaksi antara klien dengan terapis (tenaga kesehatan) secara profesional dan proporsional dalam rangka membantu penyelesaian masalah klien (Mundakir, 2006).
Berdasarkan studi literatur di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang ” Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat Terhadap Kepuasan Pasien Di Rumah Sakit Haji Medan.




2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas masalah yang dapat dirumuskan adalah :
2.1. Mengidentifikasi bagaimana komunikasi terapeutik perawat di rumah sakit Haji Medan?
2.2. Mengidentifikasi bagaimana kepuasan pasien di rumah sakit Haji Medan ?
2.3. Menganalisis Bagaimana pengaruh komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di Rumah Sakit ?

3. Tujuan Penelitian
3.1. Tujuan Umum
Mengidentifikasi pengaruh komunikasi terapeutik terhadap tingkat kepuasan pasien di Rumah Sakit Haji Medan.
3.2. Tujuan Khusus
3.2.1. Untuk Mengidentifikasi penerapan keterampilan komunikasi terapeutik perawat di Rumah Sakit Haji Medan.
3.2.2. Untuk Mengidentifikasi kepuasan pasien di Rumah Sakit Haji Medan.
3.2.3. Untuk menganalisis pengaruh komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di Rumah Sakit Haji Medan.



4. Manfaat Penelitian
4.1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan perawat dalam meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan kepada pasien.
4.2. Hasil penelitian diharapkan dapat berguna bagi perawat dalam membina hubungan yang terapeutik dengan klien.
4.3. Sebagai bahan masukan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas kepada pasien, seperti setiap melakukan terapi kepada pasien perawat harus melibatkan kerjasama dengan keluarga atau pasien itu sendiri.
4.4. Sebagai bahan atau data dasar untuk penelitian selanjutnya yang lebih spesifik seperti efektifitas komunikasi terapeutik pada anak remaja.