“ 2010 AHA Guidelines”: Merubah ABC menjadi CAB !!<
Kompresi dada harus mejadi langkah pertama dalam menangani henti jantung (cardiac arrest). Oleh karena itu, American Heart Association (AHA) sekarang merekomendasikan bahwa prosedur resusitasi jantung paru (RJP) dirubah dari A-B-C (Airway, Breathing, Circulation) menjadi C-A-B (Circulation, Airway, Breathing).
Perubahan tersebut di dokumentasikan pada :’the 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care”. Pedoman baru ini menggantikan pedoman RJP sebelumnya yang dikeluarkan pada tahun 2005.
2010 AHA Guidelines for CPR and ECC didasarkan pada tinjauan literatur resusitasi terkini dan komprehensif yang pernah dipublikasikan. Selain itu juga dari penelitian terbaru yang mencakup informasi dari 356 Ahli resusitasi dari 29 negara yang di telaah, di analisa, dievaluasi, diperdebatkan dan dibahas melalui penelitian dan hipotesis dalam rapat, telekonfrens, dan sesi online (webinar) selama periode 36 bulan sebelum konsensus tahun 2010.
Menurut AHA, penekanan dada (kompresi) harus segera dilakukan kepada siapa saja yang tidak ada respons (tidak sadar) dan tidak bernafas secara normal. Pada menit-menit pertama oksigen masih ada dalam paru-paru dan aliran/pembuluh darah, sehingga kompresi dada sesegera mungkin akan memfasilitasi distribusi oksigen ke otak dan jantung lebih cepat. Sebelumnya, prosedur RJP / CPR dimulai dengan membuka jalan napas (A) bukan dengan kompresi dada (C) sehingga menyebabkan keterlambatan signifikas selama 30 detik.
“Selama lebih dari 40 tahun, pelatihan RJP telah menekankan pedoman ABC, yang memerintahkan semua orang untuk membuka jalan napas korban dengan menengadahkannya, menutup hidung dan pernapasan kedalam mulut korban dan memberikan kompresi dada.” kata Michel R. Sayre (Ketua Komite Kegawatdaruratan Kardiovaskuler AHA), dia juga mengatakan,”Pendekatan ini menyebabkan keterlambatan yang signifikan, kompresi dada harus sesegera mungkin dilakukan agar darah yang kaya oksigen segera diedarkan,” tambahnya.
Pedoman baru juga merekomendasikan bahwa selama melakukan RJP, penolong meningkatkan kecepatan komprsi dada dengan kecepatan paling sedikit 100 kali per menit, selain itu tekanan harus dibuat lebih dalam, kedalaman minimal 2 inchi pada orang dewasa dan anak-anak. Sedangkan pada bayi 1.5 inchi.
Pada saat melakukan RJP penolong harus memberi kesempatan agar dada korban agar kembali ke semula sebelum melakukan penekanan berikutnya agar kompresi lebih efektif. Kompresi harus dilakukan selama mungkin tanpa menggunakan ventilasi berlebihan.
Di Amerika 911 sekarang diarahkan untuk memberikan intruksi tegas agar penekanan dada dapat segera dilakukan ketika diduga serangan jantung.
Pedoman baru juga merekomendasikan secara secara tegas bahwa “Dispatcher / Operator Gawat Darurat” harus menginstruktikan kepada penolong yang tidak terlatih agar melakukan RJP meskipun hanya dengan penekanan dada saja (Hands Only CPR / Chest Compression Only) untuk dewasa yang tidak berespons, tidak bernapas atau bernapas tidak normal.
Rabu, 17 Agustus 2011
Jumat, 08 Juli 2011
KEPERAWATAN KRITIS Salman
"Wilujeng Sumping", "Well Come", "Sugeng Rawuh" di blog Keperawatan Kritis ini. Mudah-mudahan dengan adanya blog ini kita bisa menambah pengetahuan dan saling tukar informasi tentang masalah keperawatan, khususnya bidang keperawatan kritis, baik bagi perawat yang berkecimpung langsung di Unit Perawatan Kritis maupun bagi Mahasiswa Perawat yang memerlukan materi tentang Keperawatan Kritis.
Saturday, July 8, 2011
DASAR-DASAR VENTILATOR
Pendahuluan
Ventilator adalah alat bantu nafas untuk memenuhi kebutuhan oksigenisasi pasien supaya kadar oksigen dan status asam basa dalam darah kembali normal.
Beberapa keadaan seperti asidosis dan alkalosis membuat keadaan tubuh membuat kompensasi dengan berbagai cara untuk menyeimbangkan keadaan PH darah mendekati normal 7,35-7,45 dan kadar PO2 dalam darah mendekati 80-100 mmHg. Kompensai dapat berupa hyperventilasi jika keadaan hipoksemia, atau pemenjangan waktu ekspirasi jika terjadi hyperkarbia (peningkatan kadar CO2 dalam darah). Tetapi kompensasi alamiah tidak sepenuhnya dapat mengembalikan kadar asam basa dalam darah menjadi normal, tetapi dapat mengakibatkan kelelahan otot-otot nafas dan pasien pada akhirnya menjadi hipoventilasio dan terjadi apneu.
Ventilator memberikan bantuan dengan mengambil alih pernafasan pasien yang dapat di set menjadi mode bantuan sepenuhnya atau bantuan sebagian.
Mode Bantuan sepenuhnya diantaranya VC (Volume Control) PC (Pressure Control), CMV (Control Minute Volume)
INDIKASI PEMAKAIAN VENTILATOR
MODE :
Secara keseluruhan, mode ventilator terbagi menjadi 2 bagian besar yaitu mode bantuan sepenuhnya dan mode bantuan sebagian. Mode bantuan penuh terdiri dari mode volume control (VC) dan pressure control (PC). Baik VC ataupun PC, masing-masing memenuhi target Tidal Volume (VT) sesuai kebutuhan pasien (10-12 ml/kgBB/breath).
Mode bantuan sebagian terdiri dari SIMV (Sincronous Intermitten Minute Volume), Pressure Support (PS), atau gabungan volume dan tekanan SIMV-PS.
>Volume Control (VC)
Pada mode ini, frekwensi nafas (f) dan jumlah tidal volume (TV) yang diberikan kepada pasien secara total diatur oleh mesin.
Mode ini digunakan jika pasien tidak sanggup lagi memenuhi kebutuhan TV sendiri dengan frekwensi nafas normal. Karena pada setiap mode control, jumlah nafas dan TV mutlak diatur oleh ventilator, maka pada pasien-pasien yang sadar atau inkoopratif akan mengakibatkan benturan nafas (fighting) anatara pasien dengan mesin ventilator saat insfirasi atau ekspirasi. Sehingga pasien harus diberikan obat-obat sedatif dan pelumpuh otot pernafasan sampai pola nafas kembali efektif. Pemberian muscle relaksan harus benar-benar dipertimbangkan terhadap efek merugikan berupa hipotensive.
Beberapa pengaturan (setting) yang harus di buat pada mode VC diantaranya:
TV (Tidal Volume), MV (Menit Volume), Frekwensi Nafas, PEEP (positif End Ekspiratory Pressure), Trigger Sensitivity, FiO2, dan beberapa alarm tanda MV rendah atau MV yang tinggi untuk memberi tanda kemungkinan terjadi kebocoran atau sumbatan sirkuit karena adanya sleem.
TV = 10-12 ml/kgBB
MV = Frekwensi nafas x TV
F = 10-12 x/menit
PEEP = 5-20 cmH2O. standar dibuat 5 cmH2O. Pemberian yang terlalu tinggi dapat menyebabkan resiko barotraumas.
Trigger = Agar usaha nafas tidak dapat terdeteksi oleh mesin, trigger dibuat lebih rendah –20 cmH2O. Semakin tinggi trigger akan semakin mudah mesin membaca nafas pasien dan mesin akan segera memberikan bantuan setiap ada usaha nafas spontan dari pasien. Jika usaha nafas spontan pasien sudah efektif, trigger dapat dibuat mendekati –2 atau 0 cmH2O.
FiO2 = untuk paska intubasi dapat diberikan hiperoksigenisasi dan berangsur-angsur diturunkan dengan patokan nilai saturasi masih di atas 95%
Lower MV = Dibuat 1,5 dibawah MV yang sudah dihitung
Upper MV = 1,5 di atas MV yang sudah dihitung
>Pressure Control (PC)
Jika pada mode VC, sasaran mesin adalah memenuhi kebutuhan TV atau MV melalui pemberian volume, maka pada mode PC target mesin adalah memenuhi kebutuhan TV atau MV melalui pemberian tekanan. Mode ini efektif digunakan pada pasien-pasien dengan kasus edema paru akut.
Beberapa pengaturan (setting) yang harus di buat pada mode PC diantaranya:
IPL (Inspiratory Pressure Level), Frekwensi Nafas, Trigger Sensitivity, PEEP, FiO2, Alarm batas bawah dan atas MV serta alarm batas atas tekanan (upper Pressure Limit).
IPL = 6-20 cmH2O dan harus selalu di atas nilai PEEP. Semakin tinggi IPL yang diberikan maka semakin besar TV yang dihasilkan. Pengaturan IPL sebaiknya disesuaikan dengan TV yang dihasilkan di layar (display) karena komplience paru setiap pasien berbeda-beda.
F = frekwensi nafas 10-12 x/menit
Trigger sensitivity – 20 cmH2O.
PEEP = 5-20 cmH2O
FiO2 = 21-100%
Lower Upper Pressure = 35 cmH2O
>SIMV
Jika VC adalah bantuan penuh maka SIMV adalah bantuan sebagian dengan targetnya volume. SIMV memberikan bantuan ketika usaha nafas spontan pasien mentriger mesin ventilator. Tapi jika usaha nafas tidak sanggup mentriger mesin, maka ventilator akan memberikan bantuan sesuai dengan jumlah frekwensi yang sudah diatur. Untuk memudahkan bantuan, maka trigger dibuat mendekati standar atau dibuat lebih tinggi. Tetapi jika kekuatan untuk mengawali inspirasi belum kuat dan frekwensi nafas terlalu cepat, pemakaian mode ini akan mengakibatkan tingginya WOB (Work Of Breathing ) yang akan dialami pasien.
Mode ini memberikan keamanan jika terjadi apneu. Pada pasien jatuh apneu maka mesin tetap akan memberikan frekwensi nafas sesuai dengn jumlah nafas yang di set pada mesin.
Tetapi jika kemempuan inspirasi pasien belum cukup kuat, maka bias terjadi fighting antara mesin dengan pasien.
Beberapa pengaturan (setting) yang harus di buat pada mode SIMV diantaranya:
TV, MV, Frekwensi nafas, Trigger, PEEP, FiO2 dan alarm batas atas dan bawah MV.
>Pressure Support (PS)
Jika PC merupakan bantuan penuh, maka PS merupakan mode bantuan sebagian dengan target TV melalui pemberian tekanan. Mode ini tidak perlu mengatur frekwensi nafas mesin karena jumlah nafas akan dibantu mesin sesuai dengan jumlah trigger yang dihasilkan dari nafas spontan pasien. Semakin tinggi trigger yang diberikan akan semakin mudah mesin ventilator memberikan bantuan. Demikian pula dengan IPL, semaikin tinggi IPL yang diberikan akan semakin mudah TV pasien terpenuhi. Tapi untuk tahap weaning, pemberian trigger yang tinggi atau IPL yang tinggi akan mengakibatkan ketergantungan pasien terhadap mesin dan ini akan mengakibatkan kesulitan pasien untuk segera lepas dari mesin ventilator.
Beberapa pengaturan (setting) yang harus di buat pada mode VC diantaranya:
IPL, Triger, PEEP, FiO2, alarm batas atas dan bawah MV serta Upper Pressure Level.
Jika pemberian IPL sudah dapat diturunkan mendekati 6 cm H2O, dan TV atau MV yang dihasilkan sudah terpenuhi, maka pasien dapat segera untuk diweaning ke mode CPAP (Continuous Positive Air Way Pressure).
>SIMV + PS
Mode ini merupakan gabungan dari mode SIMV dan mode PS. Umumnya digunakan untuk perpindahan dari mode kontrol. Bantuan yang diberikan berupa volume dan tekanan.
Jika dengan mode ini IPL dibuat 0 cmH2O, maka sama dengan mode SIMV saja. SIMV + PS memberikan kenyamanan pada pasien dengan kekuatan inspirasi yang masih lemah.
Beberapa pengaturan (setting) yang harus di buat pada mode VC diantaranya:
TV, MV, Frekwensi nafas, Trigger, IPL, PEEP, FiO2, alarm batas atas dan bawah dari MV serta Upper Pressure Limit.
>CPAP (Continous Positif Airway Pressure)
Mode ini digunakan pada pasien dengan daya inspirasi sudah cukup kuat atau jika dengan mode PS dengan IPL rendah sudah cukup menghasilkan TV yang adekuat. Bantuan yang di berikan melalui mode ini berupa PEEP dan FiO2 saja. Dengan demikian penggunaan mode ini cocok pada pasien yang siap ekstubasi.
WEANING
Proses weaning dimulai jika parameter analisa Gas darah dalam batas normal. Pemeriksaan AGD dilakukan 30 menit setelah perubahan mode atau setting serta pasien tidak sedang dilakukan suctioning.
Tahap perubahan mode dilakukan bertahap sampai mode yang digunakan seminimal mungkin. Tahapan dapat dibuat sebagai berikut:
VC-SIMV+PS – PS- CPAP dan ekstubasi
VC- PS – CPAP atau
PC- SIMV+PS – CPAP
Syarat-syarat Ekstubasi
- AGD dalam batas normal
- Pola nafas, Tekanan darah dan Heart Rate dalam batas normal dengan bantuan support inotropik minimal
- Mode ventilator CPAP dengan bantuan FiO2 minimal
- Faktor penyebab gagal nafas sudah teratasi
- Secara klinis pasien sudah siap untuk dilakukan ekstubasi.
MANAGEMEN PASIEN DENGAN VENTILATOR
- Suctionning
Suctionning merupakan prosedur yang rutin dilakukan untuk membebaskan jalan nafas. Frekwensi yang terlalu sering dapat mengakibatkan produksi sleem menjadi bertambah atau resiko infeksi menjadi tinggi. Tindakan ini dilakukan jika tindakan suctioning memang dianggap perlu sekali karena pertimbangan jalan nafas yang buruk atau jika saturasi monitor mengalami penurunan akibat sleem atau karena penumpukan CO2 dalam darah karena pembuangan CO2 terhambat oleh karena adanya sleem.
- AGD
- Hemodinamik
- Restrain
- Komunikasi
Posted by AKU BISA.... at 4:43 AM 1 comments
Labels: VENTILATOR
"WILUJENG SUMPING"
at my blog : KEPERAWATAN KRITIS
by ITANG'S
"Wilujeng Sumping", "Well Come", "Sugeng Rawuh" di blog Keperawatan Kritis ini. Mudah-mudahan dengan adanya blog ini kita bisa menambah pengetahuan dan saling tukar informasi tentang masalah keperawatan, khususnya bidang keperawatan kritis, baik bagi perawat yang berkecimpung langsung di Unit Perawatan Kritis maupun bagi Mahasiswa Perawat yang memerlukan materi tentang Keperawatan Kritis.
Perawatan kritis merupakan pelayanan keperawatan yang saat ini sangat perlu untuk dikembangkan di Indonesia. Berbagai pemberian pelayanan keperawatan intensif bertujuan untuk memberikan asuhan bagi pasien dengan penyakit berat yang potensial reversible, memberikan asuhan bagi pasien yang perlu observasi ketat dengan atau tanpa pengobatan yang tidak dapat diberikan di ruang perawatan umum, memberikan pelayanan kesehatan bagi pasien dengan potensial atau adanya kerusakan organ umumnya paru, mengurangi kesakitan dan kematian yang dapat dihindari pada pasien-pasien dengan penyakit kritis (Adam & Osborne, 1997).
DASAR-DASAR VENTILATOR Pendahuluan Ventilator adal...
"WILUJENG SUMPING"at my blog : KEPERAWATAN KRITIS...
About Me
AKU BISA....
View my complete profile
"Wilujeng Sumping", "Well Come", "Sugeng Rawuh" di blog Keperawatan Kritis ini. Mudah-mudahan dengan adanya blog ini kita bisa menambah pengetahuan dan saling tukar informasi tentang masalah keperawatan, khususnya bidang keperawatan kritis, baik bagi perawat yang berkecimpung langsung di Unit Perawatan Kritis maupun bagi Mahasiswa Perawat yang memerlukan materi tentang Keperawatan Kritis.
Saturday, July 8, 2011
DASAR-DASAR VENTILATOR
Pendahuluan
Ventilator adalah alat bantu nafas untuk memenuhi kebutuhan oksigenisasi pasien supaya kadar oksigen dan status asam basa dalam darah kembali normal.
Beberapa keadaan seperti asidosis dan alkalosis membuat keadaan tubuh membuat kompensasi dengan berbagai cara untuk menyeimbangkan keadaan PH darah mendekati normal 7,35-7,45 dan kadar PO2 dalam darah mendekati 80-100 mmHg. Kompensai dapat berupa hyperventilasi jika keadaan hipoksemia, atau pemenjangan waktu ekspirasi jika terjadi hyperkarbia (peningkatan kadar CO2 dalam darah). Tetapi kompensasi alamiah tidak sepenuhnya dapat mengembalikan kadar asam basa dalam darah menjadi normal, tetapi dapat mengakibatkan kelelahan otot-otot nafas dan pasien pada akhirnya menjadi hipoventilasio dan terjadi apneu.
Ventilator memberikan bantuan dengan mengambil alih pernafasan pasien yang dapat di set menjadi mode bantuan sepenuhnya atau bantuan sebagian.
Mode Bantuan sepenuhnya diantaranya VC (Volume Control) PC (Pressure Control), CMV (Control Minute Volume)
INDIKASI PEMAKAIAN VENTILATOR
MODE :
Secara keseluruhan, mode ventilator terbagi menjadi 2 bagian besar yaitu mode bantuan sepenuhnya dan mode bantuan sebagian. Mode bantuan penuh terdiri dari mode volume control (VC) dan pressure control (PC). Baik VC ataupun PC, masing-masing memenuhi target Tidal Volume (VT) sesuai kebutuhan pasien (10-12 ml/kgBB/breath).
Mode bantuan sebagian terdiri dari SIMV (Sincronous Intermitten Minute Volume), Pressure Support (PS), atau gabungan volume dan tekanan SIMV-PS.
>Volume Control (VC)
Pada mode ini, frekwensi nafas (f) dan jumlah tidal volume (TV) yang diberikan kepada pasien secara total diatur oleh mesin.
Mode ini digunakan jika pasien tidak sanggup lagi memenuhi kebutuhan TV sendiri dengan frekwensi nafas normal. Karena pada setiap mode control, jumlah nafas dan TV mutlak diatur oleh ventilator, maka pada pasien-pasien yang sadar atau inkoopratif akan mengakibatkan benturan nafas (fighting) anatara pasien dengan mesin ventilator saat insfirasi atau ekspirasi. Sehingga pasien harus diberikan obat-obat sedatif dan pelumpuh otot pernafasan sampai pola nafas kembali efektif. Pemberian muscle relaksan harus benar-benar dipertimbangkan terhadap efek merugikan berupa hipotensive.
Beberapa pengaturan (setting) yang harus di buat pada mode VC diantaranya:
TV (Tidal Volume), MV (Menit Volume), Frekwensi Nafas, PEEP (positif End Ekspiratory Pressure), Trigger Sensitivity, FiO2, dan beberapa alarm tanda MV rendah atau MV yang tinggi untuk memberi tanda kemungkinan terjadi kebocoran atau sumbatan sirkuit karena adanya sleem.
TV = 10-12 ml/kgBB
MV = Frekwensi nafas x TV
F = 10-12 x/menit
PEEP = 5-20 cmH2O. standar dibuat 5 cmH2O. Pemberian yang terlalu tinggi dapat menyebabkan resiko barotraumas.
Trigger = Agar usaha nafas tidak dapat terdeteksi oleh mesin, trigger dibuat lebih rendah –20 cmH2O. Semakin tinggi trigger akan semakin mudah mesin membaca nafas pasien dan mesin akan segera memberikan bantuan setiap ada usaha nafas spontan dari pasien. Jika usaha nafas spontan pasien sudah efektif, trigger dapat dibuat mendekati –2 atau 0 cmH2O.
FiO2 = untuk paska intubasi dapat diberikan hiperoksigenisasi dan berangsur-angsur diturunkan dengan patokan nilai saturasi masih di atas 95%
Lower MV = Dibuat 1,5 dibawah MV yang sudah dihitung
Upper MV = 1,5 di atas MV yang sudah dihitung
>Pressure Control (PC)
Jika pada mode VC, sasaran mesin adalah memenuhi kebutuhan TV atau MV melalui pemberian volume, maka pada mode PC target mesin adalah memenuhi kebutuhan TV atau MV melalui pemberian tekanan. Mode ini efektif digunakan pada pasien-pasien dengan kasus edema paru akut.
Beberapa pengaturan (setting) yang harus di buat pada mode PC diantaranya:
IPL (Inspiratory Pressure Level), Frekwensi Nafas, Trigger Sensitivity, PEEP, FiO2, Alarm batas bawah dan atas MV serta alarm batas atas tekanan (upper Pressure Limit).
IPL = 6-20 cmH2O dan harus selalu di atas nilai PEEP. Semakin tinggi IPL yang diberikan maka semakin besar TV yang dihasilkan. Pengaturan IPL sebaiknya disesuaikan dengan TV yang dihasilkan di layar (display) karena komplience paru setiap pasien berbeda-beda.
F = frekwensi nafas 10-12 x/menit
Trigger sensitivity – 20 cmH2O.
PEEP = 5-20 cmH2O
FiO2 = 21-100%
Lower Upper Pressure = 35 cmH2O
>SIMV
Jika VC adalah bantuan penuh maka SIMV adalah bantuan sebagian dengan targetnya volume. SIMV memberikan bantuan ketika usaha nafas spontan pasien mentriger mesin ventilator. Tapi jika usaha nafas tidak sanggup mentriger mesin, maka ventilator akan memberikan bantuan sesuai dengan jumlah frekwensi yang sudah diatur. Untuk memudahkan bantuan, maka trigger dibuat mendekati standar atau dibuat lebih tinggi. Tetapi jika kekuatan untuk mengawali inspirasi belum kuat dan frekwensi nafas terlalu cepat, pemakaian mode ini akan mengakibatkan tingginya WOB (Work Of Breathing ) yang akan dialami pasien.
Mode ini memberikan keamanan jika terjadi apneu. Pada pasien jatuh apneu maka mesin tetap akan memberikan frekwensi nafas sesuai dengn jumlah nafas yang di set pada mesin.
Tetapi jika kemempuan inspirasi pasien belum cukup kuat, maka bias terjadi fighting antara mesin dengan pasien.
Beberapa pengaturan (setting) yang harus di buat pada mode SIMV diantaranya:
TV, MV, Frekwensi nafas, Trigger, PEEP, FiO2 dan alarm batas atas dan bawah MV.
>Pressure Support (PS)
Jika PC merupakan bantuan penuh, maka PS merupakan mode bantuan sebagian dengan target TV melalui pemberian tekanan. Mode ini tidak perlu mengatur frekwensi nafas mesin karena jumlah nafas akan dibantu mesin sesuai dengan jumlah trigger yang dihasilkan dari nafas spontan pasien. Semakin tinggi trigger yang diberikan akan semakin mudah mesin ventilator memberikan bantuan. Demikian pula dengan IPL, semaikin tinggi IPL yang diberikan akan semakin mudah TV pasien terpenuhi. Tapi untuk tahap weaning, pemberian trigger yang tinggi atau IPL yang tinggi akan mengakibatkan ketergantungan pasien terhadap mesin dan ini akan mengakibatkan kesulitan pasien untuk segera lepas dari mesin ventilator.
Beberapa pengaturan (setting) yang harus di buat pada mode VC diantaranya:
IPL, Triger, PEEP, FiO2, alarm batas atas dan bawah MV serta Upper Pressure Level.
Jika pemberian IPL sudah dapat diturunkan mendekati 6 cm H2O, dan TV atau MV yang dihasilkan sudah terpenuhi, maka pasien dapat segera untuk diweaning ke mode CPAP (Continuous Positive Air Way Pressure).
>SIMV + PS
Mode ini merupakan gabungan dari mode SIMV dan mode PS. Umumnya digunakan untuk perpindahan dari mode kontrol. Bantuan yang diberikan berupa volume dan tekanan.
Jika dengan mode ini IPL dibuat 0 cmH2O, maka sama dengan mode SIMV saja. SIMV + PS memberikan kenyamanan pada pasien dengan kekuatan inspirasi yang masih lemah.
Beberapa pengaturan (setting) yang harus di buat pada mode VC diantaranya:
TV, MV, Frekwensi nafas, Trigger, IPL, PEEP, FiO2, alarm batas atas dan bawah dari MV serta Upper Pressure Limit.
>CPAP (Continous Positif Airway Pressure)
Mode ini digunakan pada pasien dengan daya inspirasi sudah cukup kuat atau jika dengan mode PS dengan IPL rendah sudah cukup menghasilkan TV yang adekuat. Bantuan yang di berikan melalui mode ini berupa PEEP dan FiO2 saja. Dengan demikian penggunaan mode ini cocok pada pasien yang siap ekstubasi.
WEANING
Proses weaning dimulai jika parameter analisa Gas darah dalam batas normal. Pemeriksaan AGD dilakukan 30 menit setelah perubahan mode atau setting serta pasien tidak sedang dilakukan suctioning.
Tahap perubahan mode dilakukan bertahap sampai mode yang digunakan seminimal mungkin. Tahapan dapat dibuat sebagai berikut:
VC-SIMV+PS – PS- CPAP dan ekstubasi
VC- PS – CPAP atau
PC- SIMV+PS – CPAP
Syarat-syarat Ekstubasi
- AGD dalam batas normal
- Pola nafas, Tekanan darah dan Heart Rate dalam batas normal dengan bantuan support inotropik minimal
- Mode ventilator CPAP dengan bantuan FiO2 minimal
- Faktor penyebab gagal nafas sudah teratasi
- Secara klinis pasien sudah siap untuk dilakukan ekstubasi.
MANAGEMEN PASIEN DENGAN VENTILATOR
- Suctionning
Suctionning merupakan prosedur yang rutin dilakukan untuk membebaskan jalan nafas. Frekwensi yang terlalu sering dapat mengakibatkan produksi sleem menjadi bertambah atau resiko infeksi menjadi tinggi. Tindakan ini dilakukan jika tindakan suctioning memang dianggap perlu sekali karena pertimbangan jalan nafas yang buruk atau jika saturasi monitor mengalami penurunan akibat sleem atau karena penumpukan CO2 dalam darah karena pembuangan CO2 terhambat oleh karena adanya sleem.
- AGD
- Hemodinamik
- Restrain
- Komunikasi
Posted by AKU BISA.... at 4:43 AM 1 comments
Labels: VENTILATOR
"WILUJENG SUMPING"
at my blog : KEPERAWATAN KRITIS
by ITANG'S
"Wilujeng Sumping", "Well Come", "Sugeng Rawuh" di blog Keperawatan Kritis ini. Mudah-mudahan dengan adanya blog ini kita bisa menambah pengetahuan dan saling tukar informasi tentang masalah keperawatan, khususnya bidang keperawatan kritis, baik bagi perawat yang berkecimpung langsung di Unit Perawatan Kritis maupun bagi Mahasiswa Perawat yang memerlukan materi tentang Keperawatan Kritis.
Perawatan kritis merupakan pelayanan keperawatan yang saat ini sangat perlu untuk dikembangkan di Indonesia. Berbagai pemberian pelayanan keperawatan intensif bertujuan untuk memberikan asuhan bagi pasien dengan penyakit berat yang potensial reversible, memberikan asuhan bagi pasien yang perlu observasi ketat dengan atau tanpa pengobatan yang tidak dapat diberikan di ruang perawatan umum, memberikan pelayanan kesehatan bagi pasien dengan potensial atau adanya kerusakan organ umumnya paru, mengurangi kesakitan dan kematian yang dapat dihindari pada pasien-pasien dengan penyakit kritis (Adam & Osborne, 1997).
DASAR-DASAR VENTILATOR Pendahuluan Ventilator adal...
"WILUJENG SUMPING"at my blog : KEPERAWATAN KRITIS...
About Me
AKU BISA....
View my complete profile
Sabtu, 11 Juni 2011
Askep Sirosis Hepatis
ASKEP SIROSIS HEPATIS
A. Pengertian
Sirosis hati adalah penyakit hati menahun yang difus ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Biasanya dimulai dengan adanya proses peradangan nekrosis sel hati yang luas, pembentukan jaringan ikat dan usaha regenerasi nodul. Distorsi arsitektur hati akan menimbulkan perubahan sirkulasi mikro dan makro menjadi tidak teratur akibat penambahan jaringan ikat dan nodul tersebut (Suzanne C. Smeltzer dan Brenda G. Bare, 2001).
B. Etiologi
Ada 3 tipe sirosis atau pembentukan parut dalam hati :
1. Sirosis portal laennec (alkoholik nutrisional), dimana jaringan parut secara khas mengelilingi daerah portal. Sering disebabkan oleh alkoholis kronis.
2. Sirosis pascanekrotik, dimana terdapat pita jaringan parut yang lebar sebagai akibat lanjut dari hepatitis virus akut yang terjadi sebelumnya.
3. Sirosis bilier, dimana pembentukan jaringan parut terjadi dalam hati di sekitar saluran empedu. Terjadi akibat obstruksi bilier yang kronis dan infeksi (kolangitis).
Bagian hati yang terlibat terdiri atas ruang portal dan periportal tempat kanalikulus biliaris dari masing-masing lobulus hati bergabung untuk membentuk saluran empedu baru. Dengan demikian akan terjadi pertumbuhan jaringan yang berlebihan terutama terdiri atas saluran empedu yang baru dan tidak berhubungan yang dikelilingi oleh jaringan parut.
C. Manifestasi Klinis
Penyakit ini mencakup gejala ikterus dan febris yang intermiten.
Pembesaran hati. Pada awal perjalanan sirosis, hati cenderung membesar dan sel-selnya dipenuhi oleh lemak. Hati tersebut menjadi keras dan memiliki tepi tajam yang dapat diketahui melalui palpasi. Nyeri abdomen dapat terjadi sebagai akibat dari pembesaran hati yang cepat dan baru saja terjadi sehingga mengakibatkan regangan pada selubung fibrosa hati (kapsula Glissoni). Pada perjalanan penyakit yang lebih lanjut, ukuran hati akan berkurang setelah jaringan parut menyebabkan pengerutan jaringan hati. Apabila dapat dipalpasi, permukaan hati akan teraba benjol-benjol (noduler).
Obstruksi Portal dan Asites. Manifestasi lanjut sebagian disebabkan oleh kegagalan fungsi hati yang kronis dan sebagian lagi oleh obstruksi sirkulasi portal. Semua darah dari organ-organ digestif praktis akan berkumpul dalam vena portal dan dibawa ke hati. Karena hati yang sirotik tidak memungkinkan pelintasan darah yang bebas, maka aliran darah tersebut akan kembali ke dalam limpa dan traktus gastrointestinal dengan konsekuensi bahwa organ-organ ini menjadi tempat kongesti pasif yang kronis; dengan kata lain, kedua organ tersebut akan dipenuhi oleh darah dan dengan demikian tidak dapat bekerja dengan baik. Pasien dengan keadaan semacam ini cenderung menderita dispepsia kronis atau diare. Berat badan pasien secara berangsur-angsur mengalami penurunan.
Cairan yang kaya protein dan menumpuk di rongga peritoneal akan menyebabkan asites. Hal ini ditunjukkan melalui perfusi akan adanya shifting dullness atau gelombang cairan. Splenomegali juga terjadi. Jaring-jaring telangiektasis, atau dilatasi arteri superfisial menyebabkan jaring berwarna biru kemerahan, yang sering dapat dilihat melalui inspeksi terhadap wajah dan keseluruhan tubuh.
Varises Gastrointestinal. Obstruksi aliran darah lewat hati yang terjadi akibat perubahan fibrofik juga mengakibatkan pembentukan pembuluh darah kolateral sistem gastrointestinal dan pemintasan (shunting) darah dari pernbuluh portal ke dalam pernbuluh darah dengan tekanan yang lebih rendah. Sebagai akibatnya, penderita sirosis sering memperlihatkan distensi pembuluh darah abdomen yang mencolok serta terlihat pada inspeksi abdomen (kaput medusae), dan distensi pembuluh darah di seluruh traktus gastrointestinal. Esofagus, lambung dan rektum bagian bawah merupakan daerah yang sering mengalami pembentukan pembuluh darah kolateral. Distensi pembuluh darah ini akan membentuk varises atau temoroid tergantung pada lokasinya.
Karena fungsinya bukan untuk menanggung volume darah dan tekanan yang tinggi akibat sirosis, maka pembuluh darah ini dapat mengalami ruptur dan menimbulkan perdarahan. Karena itu, pengkajian harus mencakup observasi untuk mengetahui perdarahan yang nyata dan tersembunyi dari traktus gastrointestinal. Kurang lebih 25% pasien akan mengalami hematemesis ringan; sisanya akan mengalami hemoragi masif dari ruptur varises pada lambung dan esofagus.
Edema. Gejala lanjut lainnya pada sirosis hepatis ditimbulkan oleh gagal hati yang kronis. Konsentrasi albumin plasma menurun sehingga menjadi predisposisi untuk terjadinya edema. Produksi aldosteron yang berlebihan akan menyebabkan retensi natrium serta air dan ekskresi kalium.
Defisiensi Vitamin dan Anemia. Karena pembentukan, penggunaan dan penyimpanan vitamin tertentu yan tidak memadai (terutama vitamin A, C dan K), maka tanda-tanda defisiensi vitamin tersebut sering dijumpai, khususnya sebagai fenomena hemoragik yang berkaitan dengan defisiensi vitamin K. Gastritis kronis dan gangguan fungsi gastrointestinal bersama-sama asupan diet yang tidak adekuat dan gangguan fungsi hati turut menimbulkan anemia yang sering menyertai sirosis hepatis. Gejala anemia dan status nutrisi serta kesehatan pasien yang buruk akan mengakibatkan kelelahan hebat yang mengganggu kemampuan untuk melakukan aktivitas rutin sehari-hari.
Kemunduran Mental. Manifestasi klinik lainnya adalah kemunduran fungsi mental dengan ensefalopati dan koma hepatik yang membakat. Karena itu, pemeriksaan neurologi perlu dilakukan pada sirosis hepatis dan mencakup perilaku umum pasien, kemampuan kognitif, orientasi terhadap waktu serta tempat, dan pola bicara.
D. Patofisiologi
Konsumsi minuman beralkohol dianggap sebagai faktor penyebab yang utama. Sirosis terjadi paling tinggi pada peminum minuman keras. Meskipun defisiensi gizi dengan penurunan asupan protein turut menimbulkan kerusakan hati pada sirosis, namun asupan alkohol yang berlebihan merupakan faktor penyebab utama pada perlemakan hati dan konsekuensi yang ditimbulkannya. Namun demikian, sirosis juga pernah terjadi pada individu yang tidak memiliki kebiasan minum dan pada individu yang dietnya normal tapi dengan konsumsi alkohol yang tinggi.
Faktor lain diantaranya termasuk pajanan dengan zat kimia tertentu (karbon tetraklorida, naftalen, terklorinasi, arsen atau fosfor) atau infeksi skistosomiastis dua kali lebih banyak daripada wanita dan mayoritas pasien sirosis berusia 40 – 60 tahun.
Sirosis laennec merupakan penyakit yang ditandai oleh nekrosis yang melibatkan sel-sel hati dan kadang-kadang berulang selama perjalanan penyakit sel-sel hati yang dihancurkan itu secara berangsur-angsur digantikan oleh jaringan parut yang melampaui jumlah jaringan hati yang masih berfungsi. Pulau-pulau jaringan normal yang masih tersisa dan jaringan hati hasil regenerasi dapat menonjal dari bagian-bagian yang berkonstriksi sehingga hati yang sirotik memperlihatkan gambaran mirip paku sol sepatu berkepala besar (hobnail appearance) yang khas.
Sirosis hepatis biasanya memiliki awitan yang insidus dan perjalanan penyakit yang sangat panjang sehingga kadang-kadang melewati rentang waktu 30 tahun/lebih.
E. Proses Keperawatan Pada Pasien Sirosis Hepatis
Selengkapnya adnd a tinggal mendownload di DISINI
DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. (2001). Keperawatan medikal bedah 2. (Ed 8). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Doenges, Marilynn E, Mary Frances Moorhouse dan Alice C. Geisser. (1999). Rencana asuhan keperawatan : pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Tjokronegoro dan Hendra Utama. (1996). Ilmu penyakit dalam jilid 1. Jakarta: FKUI.
Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. (1994). Patofisiologi, konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta: Penerbit EGC.
Soeparman. 1987. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Jakarta : FKUI.
A. Pengertian
Sirosis hati adalah penyakit hati menahun yang difus ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Biasanya dimulai dengan adanya proses peradangan nekrosis sel hati yang luas, pembentukan jaringan ikat dan usaha regenerasi nodul. Distorsi arsitektur hati akan menimbulkan perubahan sirkulasi mikro dan makro menjadi tidak teratur akibat penambahan jaringan ikat dan nodul tersebut (Suzanne C. Smeltzer dan Brenda G. Bare, 2001).
B. Etiologi
Ada 3 tipe sirosis atau pembentukan parut dalam hati :
1. Sirosis portal laennec (alkoholik nutrisional), dimana jaringan parut secara khas mengelilingi daerah portal. Sering disebabkan oleh alkoholis kronis.
2. Sirosis pascanekrotik, dimana terdapat pita jaringan parut yang lebar sebagai akibat lanjut dari hepatitis virus akut yang terjadi sebelumnya.
3. Sirosis bilier, dimana pembentukan jaringan parut terjadi dalam hati di sekitar saluran empedu. Terjadi akibat obstruksi bilier yang kronis dan infeksi (kolangitis).
Bagian hati yang terlibat terdiri atas ruang portal dan periportal tempat kanalikulus biliaris dari masing-masing lobulus hati bergabung untuk membentuk saluran empedu baru. Dengan demikian akan terjadi pertumbuhan jaringan yang berlebihan terutama terdiri atas saluran empedu yang baru dan tidak berhubungan yang dikelilingi oleh jaringan parut.
C. Manifestasi Klinis
Penyakit ini mencakup gejala ikterus dan febris yang intermiten.
Pembesaran hati. Pada awal perjalanan sirosis, hati cenderung membesar dan sel-selnya dipenuhi oleh lemak. Hati tersebut menjadi keras dan memiliki tepi tajam yang dapat diketahui melalui palpasi. Nyeri abdomen dapat terjadi sebagai akibat dari pembesaran hati yang cepat dan baru saja terjadi sehingga mengakibatkan regangan pada selubung fibrosa hati (kapsula Glissoni). Pada perjalanan penyakit yang lebih lanjut, ukuran hati akan berkurang setelah jaringan parut menyebabkan pengerutan jaringan hati. Apabila dapat dipalpasi, permukaan hati akan teraba benjol-benjol (noduler).
Obstruksi Portal dan Asites. Manifestasi lanjut sebagian disebabkan oleh kegagalan fungsi hati yang kronis dan sebagian lagi oleh obstruksi sirkulasi portal. Semua darah dari organ-organ digestif praktis akan berkumpul dalam vena portal dan dibawa ke hati. Karena hati yang sirotik tidak memungkinkan pelintasan darah yang bebas, maka aliran darah tersebut akan kembali ke dalam limpa dan traktus gastrointestinal dengan konsekuensi bahwa organ-organ ini menjadi tempat kongesti pasif yang kronis; dengan kata lain, kedua organ tersebut akan dipenuhi oleh darah dan dengan demikian tidak dapat bekerja dengan baik. Pasien dengan keadaan semacam ini cenderung menderita dispepsia kronis atau diare. Berat badan pasien secara berangsur-angsur mengalami penurunan.
Cairan yang kaya protein dan menumpuk di rongga peritoneal akan menyebabkan asites. Hal ini ditunjukkan melalui perfusi akan adanya shifting dullness atau gelombang cairan. Splenomegali juga terjadi. Jaring-jaring telangiektasis, atau dilatasi arteri superfisial menyebabkan jaring berwarna biru kemerahan, yang sering dapat dilihat melalui inspeksi terhadap wajah dan keseluruhan tubuh.
Varises Gastrointestinal. Obstruksi aliran darah lewat hati yang terjadi akibat perubahan fibrofik juga mengakibatkan pembentukan pembuluh darah kolateral sistem gastrointestinal dan pemintasan (shunting) darah dari pernbuluh portal ke dalam pernbuluh darah dengan tekanan yang lebih rendah. Sebagai akibatnya, penderita sirosis sering memperlihatkan distensi pembuluh darah abdomen yang mencolok serta terlihat pada inspeksi abdomen (kaput medusae), dan distensi pembuluh darah di seluruh traktus gastrointestinal. Esofagus, lambung dan rektum bagian bawah merupakan daerah yang sering mengalami pembentukan pembuluh darah kolateral. Distensi pembuluh darah ini akan membentuk varises atau temoroid tergantung pada lokasinya.
Karena fungsinya bukan untuk menanggung volume darah dan tekanan yang tinggi akibat sirosis, maka pembuluh darah ini dapat mengalami ruptur dan menimbulkan perdarahan. Karena itu, pengkajian harus mencakup observasi untuk mengetahui perdarahan yang nyata dan tersembunyi dari traktus gastrointestinal. Kurang lebih 25% pasien akan mengalami hematemesis ringan; sisanya akan mengalami hemoragi masif dari ruptur varises pada lambung dan esofagus.
Edema. Gejala lanjut lainnya pada sirosis hepatis ditimbulkan oleh gagal hati yang kronis. Konsentrasi albumin plasma menurun sehingga menjadi predisposisi untuk terjadinya edema. Produksi aldosteron yang berlebihan akan menyebabkan retensi natrium serta air dan ekskresi kalium.
Defisiensi Vitamin dan Anemia. Karena pembentukan, penggunaan dan penyimpanan vitamin tertentu yan tidak memadai (terutama vitamin A, C dan K), maka tanda-tanda defisiensi vitamin tersebut sering dijumpai, khususnya sebagai fenomena hemoragik yang berkaitan dengan defisiensi vitamin K. Gastritis kronis dan gangguan fungsi gastrointestinal bersama-sama asupan diet yang tidak adekuat dan gangguan fungsi hati turut menimbulkan anemia yang sering menyertai sirosis hepatis. Gejala anemia dan status nutrisi serta kesehatan pasien yang buruk akan mengakibatkan kelelahan hebat yang mengganggu kemampuan untuk melakukan aktivitas rutin sehari-hari.
Kemunduran Mental. Manifestasi klinik lainnya adalah kemunduran fungsi mental dengan ensefalopati dan koma hepatik yang membakat. Karena itu, pemeriksaan neurologi perlu dilakukan pada sirosis hepatis dan mencakup perilaku umum pasien, kemampuan kognitif, orientasi terhadap waktu serta tempat, dan pola bicara.
D. Patofisiologi
Konsumsi minuman beralkohol dianggap sebagai faktor penyebab yang utama. Sirosis terjadi paling tinggi pada peminum minuman keras. Meskipun defisiensi gizi dengan penurunan asupan protein turut menimbulkan kerusakan hati pada sirosis, namun asupan alkohol yang berlebihan merupakan faktor penyebab utama pada perlemakan hati dan konsekuensi yang ditimbulkannya. Namun demikian, sirosis juga pernah terjadi pada individu yang tidak memiliki kebiasan minum dan pada individu yang dietnya normal tapi dengan konsumsi alkohol yang tinggi.
Faktor lain diantaranya termasuk pajanan dengan zat kimia tertentu (karbon tetraklorida, naftalen, terklorinasi, arsen atau fosfor) atau infeksi skistosomiastis dua kali lebih banyak daripada wanita dan mayoritas pasien sirosis berusia 40 – 60 tahun.
Sirosis laennec merupakan penyakit yang ditandai oleh nekrosis yang melibatkan sel-sel hati dan kadang-kadang berulang selama perjalanan penyakit sel-sel hati yang dihancurkan itu secara berangsur-angsur digantikan oleh jaringan parut yang melampaui jumlah jaringan hati yang masih berfungsi. Pulau-pulau jaringan normal yang masih tersisa dan jaringan hati hasil regenerasi dapat menonjal dari bagian-bagian yang berkonstriksi sehingga hati yang sirotik memperlihatkan gambaran mirip paku sol sepatu berkepala besar (hobnail appearance) yang khas.
Sirosis hepatis biasanya memiliki awitan yang insidus dan perjalanan penyakit yang sangat panjang sehingga kadang-kadang melewati rentang waktu 30 tahun/lebih.
E. Proses Keperawatan Pada Pasien Sirosis Hepatis
Selengkapnya adnd a tinggal mendownload di DISINI
DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. (2001). Keperawatan medikal bedah 2. (Ed 8). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Doenges, Marilynn E, Mary Frances Moorhouse dan Alice C. Geisser. (1999). Rencana asuhan keperawatan : pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Tjokronegoro dan Hendra Utama. (1996). Ilmu penyakit dalam jilid 1. Jakarta: FKUI.
Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. (1994). Patofisiologi, konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta: Penerbit EGC.
Soeparman. 1987. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Jakarta : FKUI.
Senin, 04 April 2011
EMPATY PERAWAT SEMBUHKAN PASIEN
Tidak jarang anda mendengar baik itu dari surat kabar maupun kerabat anda, "Di Rumah Sakit A, perawatnya ramah-ramah, jadi sewaktu dulu aku sakit, belum minum obat aja rasanya sakitnya tinggal separuh" atau "Ketika aku dulu dirawat di Rumah Sakit B, perawatnya galak dan judes, rasanya penyakitku justru tambah parah saja" atau juga "Lebih baik aku berobat ke Rumah Sakit X yang sedikit lebih mahal tetapi perawatnya murah senyum daripada ke Rumah Sakit Y yang lebih murah tetapi perawatnya menderita ‘sakit gigi’ (sulit untuk senyum)". Tidak dipungkiri fenomena tersebut tentunya akan sangat berpengaruh terhadap citra rumah sakit itu sendiri di mata masyarakat.
Dewasa ini perhatian perawat sudah beralih dari pendekatan yang berorientasi medis kepada pendekatan yang memusatkan perhatian pada pasien. Peran perawat tidak hanya berpusat pada fungsi fisik namun meluas pada aspek psikis pasien (diadaptasi dari buku yang ditulis Ellis, dkk. yang berjudul Interpersonal Communication in Nursing) Perawatan yang efektif dapat dicapai bila perawat menaruh minat terhadap pasien tanpa membedakan status sosial ekonominya.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, dijelaskan bahwa tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1996 tentang peraturan Tenaga Kesehatan, dijelaskan bahwa perawat termasuk tenaga kesehatan jenis tenaga keperawatan.
Frekuensi interaksi perawat dengan pasien tergolong paling sering dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang lainnya, maka keberadaan perawat di rumah sakit sangat penting pula dalam memegang peranan atas kelangsungan kondisi pasien.
Seorang perawat dengan empatinya akan membantu pasien. Perawat berkeharusan bersikap baik dan santun kepada seluruh pasien, baik itu bayi yang baru lahir sampai orang lanjut usia sekalipun. Sikap ini didasarkan pada pemikiran, pilihan sikap yang benar dan tepat dalam segala situasi, yaitu tempat dan waktu. Perawatan yang efektif mencakup pemberian perhatian kepada kebutuhan emosi sang pasien. Sikap perawat kepada pasien disesuaikan dengan usia pasien. Hal ini menguatkan bahwa kemampuan untuk dapat berempati sangat diperlukan sekali oleh perawat agar perawatan lebih efektif.
Empati adalah suatu perasaan dalam diri seseorang yang sesuai dengan apa yang dirasakan oleh orang lain secara psikologis. Empati memiliki beberapa fungsi yang dapat membantu seseorang dalam bersosial, berinteraksi, berkomunikasi, dan bersikap di lingkungan masyarakat.
Florence Nightiangel, tokoh dunia yang mengubah persepsi dunia bahwa perawat itu merupakan pekerjaan yang sangat mulia dan terhormat. Sebagai perawat dibutuhkan kemampuan khusus yang tidak semua orang memilikinya, yaitu kemampuan empati. Perawat yang memiliki empati diharapkan memiliki kemampuan empati, yaitu kemampuan untuk melakukan aksi komunikasi secara sadar kepada pasien sehingga dapat memahami dan merasakan suasana hati pasien tersebut. Perilaku yang muncul dari tiap perawat terhadap pasien berbeda-beda, hal ini terkait dengan kemampuan empati perawat itu sendiri, adapun yang mempengaruhi kemampuan empati, yaitu: pikiran yang optimis, tingkat pendidikan, keadaan psikis, pengalaman, usia, jenis kelamin, latar belakang sosial budaya, status sosial, dan beban hidup. Faktor-faktor tersebut diperlukan untuk menunjang perawat dalam meningkatkan kemampuan empati.
Kemampuan empati terkadang memang tidak dapat langsung muncul dari diri seorang perawat begitu saja, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan empati, yaitu:
Peduli, perhatian dari perawat kepada pasiennya, sejauh mana komunikasi dapat terbentuk sehingga pasien dapat merasa nyaman karena diperhatikan.
Berguru, dengan belajar kepada mereka yang telah nyata dianggap memiliki kemampuan empati yang tinggi, misalnya seorang rohaniawan, psikolog, maupun dokter di rumah sakit perawat tersebut mengabdi.
Berlatih, sepandai dan sepintar apapun kalau tidak pernah berlatih maka akan kalah dengan mereka yang masih pemula tetapi rutin untuk rajin berlatih mengasah kemampuan empatinya.
Berbagi pengalaman, ingatlah bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik dan melalui pengalaman kita dapat menjadi bijaksana, dengan berbagi pengalaman dengan sesama rekan sekerja maka diharapkan perawat akan lebih tangguh dan hebat.
Dengan begitu maka perawat dapat meningkatkan kemampuan empatinya agar dapat lebih mengerti, memahami, dan menghayati tidak hanya kondisi fisik namun juga kondisi psikis pasien karena pada dasarnya pasien yang datang untuk berobat ke rumah sakit tentunya dengan tujuan memulihkan kondisi fisiknya yang sakit, padahal apabila kondisi fisik seseorang mengalami suatu keadaan sakit, maka akan mempengaruhi kondisi psikisnya, biasanya pasien akan lebih labil emosinya. Tenaga kesehatan khususnya perawat harus peka dengan keadaan seperti ini, perawat tidak hanya menangani kondisi fisik dari pasien tetapi kondisi psikisnya juga, dengan berempati kepada pasien maka diharapkan pasien dapat sembuh lebih cepat.
Dengan kemampuan empati maka perawat memiliki kemampuan untuk menghayati perasaan pasien. Kemampuan empati seorang perawat dipengaruhi oleh kondisi perawat itu sendiri. Perawat perlu menjaga kondisi kesehatan fisik dan psikis, karena keduanya saling mempengaruhi satu sama lain.
Untuk dapat memiliki kemampuan empati, seorang perawat harus mampu bersosialisasi. Kebanyakan perawat memiliki sifat extovert (terbuka), maka akan lebih mudah dalam menangani pasien, karena pasien merasa nyaman dengan keberadaannya.
Sekarang ini sudah cukup banyak pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kualitas performance perawat, pihak rumah sakit diharapkan dapat tanggap dalam meningkatkan manajemen terhadap tenaga kesehatan terutama perawatnya. Pengawasan dan evaluasi kinerja secara rutin akan sangat baik dilakukan oleh pihak rumah sakit melalui bagian HRD (Human Resource Development)-nya. Begitu juga perhatian pihak rumah sakit terhadap kesejahteraan perawatnya, hal ini sangat penting karena secara langsung mempengaruhi kinerja perawat itu sendiri.
Kemampuan empati perawat hendaknya disertai juga keramahan kepada keluarga atau kerabat pengantar atau penunggu dari pasien lebih lagi kepada setiap pengunjung rumah sakit, karena sesungguhnya citra rumah sakit ditentukan oleh sikap yang diperlihatkan sumber daya tenaga kesehatan terutama perawat sebagai ujung tombak rumah sakit. Semoga dengan meningkatnya kualitas tenaga kesehatan terutama perawat di Indonesia ini maka diharapkan akan meningkatkan pula kesehatan dan kesejahteraan seluruh warga. Hidup perawat!!
Dewasa ini perhatian perawat sudah beralih dari pendekatan yang berorientasi medis kepada pendekatan yang memusatkan perhatian pada pasien. Peran perawat tidak hanya berpusat pada fungsi fisik namun meluas pada aspek psikis pasien (diadaptasi dari buku yang ditulis Ellis, dkk. yang berjudul Interpersonal Communication in Nursing) Perawatan yang efektif dapat dicapai bila perawat menaruh minat terhadap pasien tanpa membedakan status sosial ekonominya.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, dijelaskan bahwa tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1996 tentang peraturan Tenaga Kesehatan, dijelaskan bahwa perawat termasuk tenaga kesehatan jenis tenaga keperawatan.
Frekuensi interaksi perawat dengan pasien tergolong paling sering dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang lainnya, maka keberadaan perawat di rumah sakit sangat penting pula dalam memegang peranan atas kelangsungan kondisi pasien.
Seorang perawat dengan empatinya akan membantu pasien. Perawat berkeharusan bersikap baik dan santun kepada seluruh pasien, baik itu bayi yang baru lahir sampai orang lanjut usia sekalipun. Sikap ini didasarkan pada pemikiran, pilihan sikap yang benar dan tepat dalam segala situasi, yaitu tempat dan waktu. Perawatan yang efektif mencakup pemberian perhatian kepada kebutuhan emosi sang pasien. Sikap perawat kepada pasien disesuaikan dengan usia pasien. Hal ini menguatkan bahwa kemampuan untuk dapat berempati sangat diperlukan sekali oleh perawat agar perawatan lebih efektif.
Empati adalah suatu perasaan dalam diri seseorang yang sesuai dengan apa yang dirasakan oleh orang lain secara psikologis. Empati memiliki beberapa fungsi yang dapat membantu seseorang dalam bersosial, berinteraksi, berkomunikasi, dan bersikap di lingkungan masyarakat.
Florence Nightiangel, tokoh dunia yang mengubah persepsi dunia bahwa perawat itu merupakan pekerjaan yang sangat mulia dan terhormat. Sebagai perawat dibutuhkan kemampuan khusus yang tidak semua orang memilikinya, yaitu kemampuan empati. Perawat yang memiliki empati diharapkan memiliki kemampuan empati, yaitu kemampuan untuk melakukan aksi komunikasi secara sadar kepada pasien sehingga dapat memahami dan merasakan suasana hati pasien tersebut. Perilaku yang muncul dari tiap perawat terhadap pasien berbeda-beda, hal ini terkait dengan kemampuan empati perawat itu sendiri, adapun yang mempengaruhi kemampuan empati, yaitu: pikiran yang optimis, tingkat pendidikan, keadaan psikis, pengalaman, usia, jenis kelamin, latar belakang sosial budaya, status sosial, dan beban hidup. Faktor-faktor tersebut diperlukan untuk menunjang perawat dalam meningkatkan kemampuan empati.
Kemampuan empati terkadang memang tidak dapat langsung muncul dari diri seorang perawat begitu saja, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan empati, yaitu:
Peduli, perhatian dari perawat kepada pasiennya, sejauh mana komunikasi dapat terbentuk sehingga pasien dapat merasa nyaman karena diperhatikan.
Berguru, dengan belajar kepada mereka yang telah nyata dianggap memiliki kemampuan empati yang tinggi, misalnya seorang rohaniawan, psikolog, maupun dokter di rumah sakit perawat tersebut mengabdi.
Berlatih, sepandai dan sepintar apapun kalau tidak pernah berlatih maka akan kalah dengan mereka yang masih pemula tetapi rutin untuk rajin berlatih mengasah kemampuan empatinya.
Berbagi pengalaman, ingatlah bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik dan melalui pengalaman kita dapat menjadi bijaksana, dengan berbagi pengalaman dengan sesama rekan sekerja maka diharapkan perawat akan lebih tangguh dan hebat.
Dengan begitu maka perawat dapat meningkatkan kemampuan empatinya agar dapat lebih mengerti, memahami, dan menghayati tidak hanya kondisi fisik namun juga kondisi psikis pasien karena pada dasarnya pasien yang datang untuk berobat ke rumah sakit tentunya dengan tujuan memulihkan kondisi fisiknya yang sakit, padahal apabila kondisi fisik seseorang mengalami suatu keadaan sakit, maka akan mempengaruhi kondisi psikisnya, biasanya pasien akan lebih labil emosinya. Tenaga kesehatan khususnya perawat harus peka dengan keadaan seperti ini, perawat tidak hanya menangani kondisi fisik dari pasien tetapi kondisi psikisnya juga, dengan berempati kepada pasien maka diharapkan pasien dapat sembuh lebih cepat.
Dengan kemampuan empati maka perawat memiliki kemampuan untuk menghayati perasaan pasien. Kemampuan empati seorang perawat dipengaruhi oleh kondisi perawat itu sendiri. Perawat perlu menjaga kondisi kesehatan fisik dan psikis, karena keduanya saling mempengaruhi satu sama lain.
Untuk dapat memiliki kemampuan empati, seorang perawat harus mampu bersosialisasi. Kebanyakan perawat memiliki sifat extovert (terbuka), maka akan lebih mudah dalam menangani pasien, karena pasien merasa nyaman dengan keberadaannya.
Sekarang ini sudah cukup banyak pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kualitas performance perawat, pihak rumah sakit diharapkan dapat tanggap dalam meningkatkan manajemen terhadap tenaga kesehatan terutama perawatnya. Pengawasan dan evaluasi kinerja secara rutin akan sangat baik dilakukan oleh pihak rumah sakit melalui bagian HRD (Human Resource Development)-nya. Begitu juga perhatian pihak rumah sakit terhadap kesejahteraan perawatnya, hal ini sangat penting karena secara langsung mempengaruhi kinerja perawat itu sendiri.
Kemampuan empati perawat hendaknya disertai juga keramahan kepada keluarga atau kerabat pengantar atau penunggu dari pasien lebih lagi kepada setiap pengunjung rumah sakit, karena sesungguhnya citra rumah sakit ditentukan oleh sikap yang diperlihatkan sumber daya tenaga kesehatan terutama perawat sebagai ujung tombak rumah sakit. Semoga dengan meningkatnya kualitas tenaga kesehatan terutama perawat di Indonesia ini maka diharapkan akan meningkatkan pula kesehatan dan kesejahteraan seluruh warga. Hidup perawat!!
Skripsi
PENGARUH KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT TERHADAP KEPUASAN PASIEN DI RUMAH SAKIT HAJI MEDAN
SALMAN NUR
091121027
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2010
Judul : Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat terhadap kepuasan
pasien di Rumah Sakit Haji Medan.
Nama : Salman Nur
Jurusan : Sarjana Keperawatan
Tahun : 2011
Medan, Januari 2011
Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara telah Menyetu-jui Skripsi ini sebagai bagian dari persyaratan kelulusan Sarjana Keperawatan (S.Kep).
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat Terhadap Kepuasan Pasien di Rumah Sakit Haji Medan 2010 “.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan dari Skripsi ini, baik dalam uraian, isi, serta tata bahasanya. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan di masa yang akan datang.
Untuk itu perkenankan penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada :
1. Dr. Dedi Ardinata, Mkes. Selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan.
2. Salbiah,SKp, M.Kep selaku Dosen Pembimbing I dalam penyusunan Skripsi ini.
3. Nurafidarti, SKp, M.Kep. selaku Dosen Pembimbing II dalam penyusunan Skripsi ini.
4. Dr. Yulinda Elvi Nasution selaku Ka.Bid. Pendidikan dan Penelitian Rumah Sakit Haji Medan.
5. Seluruh staf dosen pengajar di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Sumatra Utara yang telah banyak memberikan ilmu dan bimbingan kepada penulis selama mengikuti pendidikan.
6. Rekan – rekan mahasiswa-Mahasiswi Fakultas Ilmu Keperawatan kelas 1/B Universitas Sumatra Utara yang turut membantu dan memberikan motivasi kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak khususnya bagi penulis sendiri. Amin.
Medan, Januari 2011
Hormat Saya,
Penulis
Judul : Pengaruh Komunikasi Terapeutik terhadap kepuasan
pasien di Rumah Sakit Haji Medan.
Nama : Salman Nur
Jurusan : Sarjana Keperawatan
Tahun Akademik : 2009/2010
ABSTRAK
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar antara perawat dan pasien bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana pengaruh komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien dalam pelayanan asuhan keperawatan di ruangan rawat inap Rumah Sakit Haji Medan. Penelitian ini menggunakan rancangan study korelasi dengan pengambilan sampel 10% dari jumlah populasi sebanyak 64 orang pasien rawat inap di Rumah Sakit Haji Medan. Pengumpulan data dilaksanakan pada tanggal 15 maret 2010 sampai dengan 25 agustus 2010. Hasil penelitian didapatkan bahwa penerapan komunikasi terapeutik di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Haji Medan sudah optimal. Ditinjau dari adanya keterbatasan yang dimiliki dalam diri perawat seperti respon dan empati pada sebahagian perawat yang masih kurang dan belum adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) mengenai Komunikasi Terapeutik. Untuk kepuasan pasien yang dirawat inap di Rumah Sakit Haji Medan, pada umumnya pasien merasa sangat puas atas pelayanan yang diberikan oleh perawat bila ditinjau dari respon dan empati perawat ketika berinteraksi dengan pasien. Berdasarkan uji analisis Spearman’n correlation pada penelitian ini menunjukkan nilai r = 0,004. Dan P= 0,972 yang berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan bagi perawat meningkatkan pelaksanaan komunikasi terapeutik yang sudah berjalan dengan baik dan bagi pihak Rumah Sakit membuat SOP komunikasi terapeutik, meningkatkan pengetahuan perawat dengan cara mengikutsertakan para perawat dalam seminar-seminar keperawatan tentang komunikasi terapeutik, memberikan pelatihan untuk meningkatkan sikap empati perawat terhadap pasien, dan memberikan kesempatan perawat melanjutkan pendidikannya.
Kata kunci : Komunikasi Terapeutik, Kepuasan pasien
Daftar Pustaka : 17 ( 1994-2007 )
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Menurut Kotler (1988) kepuasan adalah tingkat kepuasan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya. Upaya untuk mewujudkan kepuasan pelanggan total bukanlah hal yang mudah, Mudie dan Cottom (1997) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan total tidak mungkin tercapai, sekalipun hanya untuk sementara waktu (Kempul, 2009). Selain itu Purwanto (2007) menjelaskan bahwa kepuasan dapat dirasakan siapa saja dalam menerima pelayanan kesehatan. Hal ini juga terjadi pada pasien dalam menerima jasa pelayanan di Rumah Sakit.
Menurut pendapat Budiastuti (2002) mengemukakan bahwa pasien dalam mengevaluasi kepuasan terhadap jasa pelayanan yang diterima mengacu pada be-berapa faktor, antara lain mengacu pada kualitas produk atau jasa. Pasien akan merasa puas bila hasil evaluasi mereka menunjukkan bahwa produk atau jasa yang digunakan berkualitas.
Selain itu persepsi pasien terhadap kualitas poduk atau jasa dipengaruhi oleh dua hal yaitu kenyataan kualitas poduk atau jasa yang sesungguhnya dan komunikasi perusahaan terutama iklan dalam mempromosikan rumah sakitnya. Kualitas pelayanan memegang peranan penting dalam industri jasa. Pasien akan merasa puas jika mereka memperoleh pelayanan yang baik atau sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu faktor emosional juga mempengaruhi pasien yang merasa bangga dan yakin bahwa orang lain kagum terhadap dirinya bila memilih rumah sakit yang sudah mempunyai pandangan “rumah sakit mahal”. Persepsi pasien terhadap hal ini cenderung akan mempengaruhi tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
Ada beberapa jenis – jenis pelayanan di rumah sakit yang kualitasnya selalu dinilai oleh pasien, dan salah satunya adalah pelayanan keperawatan. Tim Keperawatan merupakan anggota tim kesehatan garda depan yang menghadapi masalah kesehatan klien selama 24 jam secara terus menerus (Aljafar, 2009). Tim pelayanan keperawatan memberikan pelayanan kepada klien sesuai dengan keyakinan profesi dan standar yang ditetapkan. Hal ini ditujukan agar pelayanan keperawatan yang diberikan senantiasa merupakan yang aman serta dapat memenuhi kebutuhan dan harapan klien. Agar kebutuhan pasien terpenuhi, salah satu tindakan yang diharapkan adalah perawat dapat melakukan hubungan terapeutik dengan pasien. Untuk membina hubungan yang terapeutik perawat harus menguasai tehnik dan sikap komunikasi terapeutik selama memberikan asuhan keperawatan kepada pasien (Kelliat, 1996).
Komunikasi terapeutik adalah suatu pengalaman bersama antara perawat - klien yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien. Seorang perawat tidak akan dapat mengetahui kondisi klien jika tidak memiliki kemampuan menghargai keunikan klien. Tanpa mengetahui keunikan masing-masing, terutama terkait ke-butuhan klien, perawat juga akan kesulitan memberikan bantuan kepada klien dan mengatasi masalah klien. Sehingga perlu metode yang tepat dalam mengkomodasi agar perawat mampu mendapatkan pengetahuan yang tepat tentang pasien. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan perawat dapat menghadapi, mengpersepsikan, bereaksi dan menghargai keunikan klien (Mundakir, 2006).
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan peneliti di rumah sakit Haji Medan, dengan tehnik wawancara pada 10 pasien ditemukan beberapa keluhan dari pasien. Keluhan tersebut antara lain terkait dengan buruknya pelayanan perawat, sedikitnya kunjungan dokter pada pasien rawat inap. Buruknya pelayanan peawat yang dirasakan pasien terutama dari sikap, keramahan dan kemampuan komunikasi yang kurang santun.
Hasil penelitian melalui survey CRC (Citizen Report Card) ICW pada bulan November 2009. dengan sampel 738 pasien miskin (pasien rawat inap dan jalan yang memegang kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Keluarga Miskin (Gakin) dan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM)) di 23 rumah sakit yang ada di lima daerah (Jakarta, Bogor Depok, Tanggerang, Bekasi), menunjukkan bahwa pasien miskin menyatakan bahwa pengurusan administrasi rumah sakit masih rumit dan berbelit-belit (28,4 persen) dengan antrian yang panjang (46,9%). Pasien rawat inap misalnya mengeluhkan rendahnya kunjungan dan disiplin dokter terhadap mereka. Sedangkan pasien perempuan rawat inap mengeluhkan sikap perawat yang kurang ramah dan simpatik terhadap mereka (65,4%) (KPK Online Monitoring System, 2009).
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya kita dapat melihat bahwa ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan salah satunya dipengaruhi oleh faktor komunikasi terapeutik perawat daalam memberikan asuhan keperawatan. Banyak yang mengira atau berpendapat bahwa komunikasi te-rapeutik identik dengan senyum dan bicara lemah lembut. Pendapat ini tidak salah tetapi terlalu menyederhanakan arti dari komunikasi terapeutik itu sendiri, karena inti dari komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan untuk terapi (Suryani, 2005).
Adapun manfaat dari komunikasi terapeutik itu sendiri adalah membantu pasien dan untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya dengan hal – hal yang diperlukan. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan egonya. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri dalam hal peningkatan derajat kesehatan. Mempererat hubungan atau interaksi antara klien dengan terapis (tenaga kesehatan) secara profesional dan proporsional dalam rangka membantu penyelesaian masalah klien (Mundakir, 2006).
Berdasarkan studi literatur di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang ” Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat Terhadap Kepuasan Pasien Di Rumah Sakit Haji Medan.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas masalah yang dapat dirumuskan adalah :
2.1. Mengidentifikasi bagaimana komunikasi terapeutik perawat di rumah sakit Haji Medan?
2.2. Mengidentifikasi bagaimana kepuasan pasien di rumah sakit Haji Medan ?
2.3. Menganalisis Bagaimana pengaruh komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di Rumah Sakit ?
3. Tujuan Penelitian
3.1. Tujuan Umum
Mengidentifikasi pengaruh komunikasi terapeutik terhadap tingkat kepuasan pasien di Rumah Sakit Haji Medan.
3.2. Tujuan Khusus
3.2.1. Untuk Mengidentifikasi penerapan keterampilan komunikasi terapeutik perawat di Rumah Sakit Haji Medan.
3.2.2. Untuk Mengidentifikasi kepuasan pasien di Rumah Sakit Haji Medan.
3.2.3. Untuk menganalisis pengaruh komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di Rumah Sakit Haji Medan.
4. Manfaat Penelitian
4.1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan perawat dalam meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan kepada pasien.
4.2. Hasil penelitian diharapkan dapat berguna bagi perawat dalam membina hubungan yang terapeutik dengan klien.
4.3. Sebagai bahan masukan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas kepada pasien, seperti setiap melakukan terapi kepada pasien perawat harus melibatkan kerjasama dengan keluarga atau pasien itu sendiri.
4.4. Sebagai bahan atau data dasar untuk penelitian selanjutnya yang lebih spesifik seperti efektifitas komunikasi terapeutik pada anak remaja.
091121027
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2010
Judul : Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat terhadap kepuasan
pasien di Rumah Sakit Haji Medan.
Nama : Salman Nur
Jurusan : Sarjana Keperawatan
Tahun : 2011
Medan, Januari 2011
Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara telah Menyetu-jui Skripsi ini sebagai bagian dari persyaratan kelulusan Sarjana Keperawatan (S.Kep).
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat Terhadap Kepuasan Pasien di Rumah Sakit Haji Medan 2010 “.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan dari Skripsi ini, baik dalam uraian, isi, serta tata bahasanya. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan di masa yang akan datang.
Untuk itu perkenankan penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada :
1. Dr. Dedi Ardinata, Mkes. Selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan.
2. Salbiah,SKp, M.Kep selaku Dosen Pembimbing I dalam penyusunan Skripsi ini.
3. Nurafidarti, SKp, M.Kep. selaku Dosen Pembimbing II dalam penyusunan Skripsi ini.
4. Dr. Yulinda Elvi Nasution selaku Ka.Bid. Pendidikan dan Penelitian Rumah Sakit Haji Medan.
5. Seluruh staf dosen pengajar di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Sumatra Utara yang telah banyak memberikan ilmu dan bimbingan kepada penulis selama mengikuti pendidikan.
6. Rekan – rekan mahasiswa-Mahasiswi Fakultas Ilmu Keperawatan kelas 1/B Universitas Sumatra Utara yang turut membantu dan memberikan motivasi kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak khususnya bagi penulis sendiri. Amin.
Medan, Januari 2011
Hormat Saya,
Penulis
Judul : Pengaruh Komunikasi Terapeutik terhadap kepuasan
pasien di Rumah Sakit Haji Medan.
Nama : Salman Nur
Jurusan : Sarjana Keperawatan
Tahun Akademik : 2009/2010
ABSTRAK
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar antara perawat dan pasien bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana pengaruh komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien dalam pelayanan asuhan keperawatan di ruangan rawat inap Rumah Sakit Haji Medan. Penelitian ini menggunakan rancangan study korelasi dengan pengambilan sampel 10% dari jumlah populasi sebanyak 64 orang pasien rawat inap di Rumah Sakit Haji Medan. Pengumpulan data dilaksanakan pada tanggal 15 maret 2010 sampai dengan 25 agustus 2010. Hasil penelitian didapatkan bahwa penerapan komunikasi terapeutik di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Haji Medan sudah optimal. Ditinjau dari adanya keterbatasan yang dimiliki dalam diri perawat seperti respon dan empati pada sebahagian perawat yang masih kurang dan belum adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) mengenai Komunikasi Terapeutik. Untuk kepuasan pasien yang dirawat inap di Rumah Sakit Haji Medan, pada umumnya pasien merasa sangat puas atas pelayanan yang diberikan oleh perawat bila ditinjau dari respon dan empati perawat ketika berinteraksi dengan pasien. Berdasarkan uji analisis Spearman’n correlation pada penelitian ini menunjukkan nilai r = 0,004. Dan P= 0,972 yang berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan bagi perawat meningkatkan pelaksanaan komunikasi terapeutik yang sudah berjalan dengan baik dan bagi pihak Rumah Sakit membuat SOP komunikasi terapeutik, meningkatkan pengetahuan perawat dengan cara mengikutsertakan para perawat dalam seminar-seminar keperawatan tentang komunikasi terapeutik, memberikan pelatihan untuk meningkatkan sikap empati perawat terhadap pasien, dan memberikan kesempatan perawat melanjutkan pendidikannya.
Kata kunci : Komunikasi Terapeutik, Kepuasan pasien
Daftar Pustaka : 17 ( 1994-2007 )
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Menurut Kotler (1988) kepuasan adalah tingkat kepuasan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya. Upaya untuk mewujudkan kepuasan pelanggan total bukanlah hal yang mudah, Mudie dan Cottom (1997) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan total tidak mungkin tercapai, sekalipun hanya untuk sementara waktu (Kempul, 2009). Selain itu Purwanto (2007) menjelaskan bahwa kepuasan dapat dirasakan siapa saja dalam menerima pelayanan kesehatan. Hal ini juga terjadi pada pasien dalam menerima jasa pelayanan di Rumah Sakit.
Menurut pendapat Budiastuti (2002) mengemukakan bahwa pasien dalam mengevaluasi kepuasan terhadap jasa pelayanan yang diterima mengacu pada be-berapa faktor, antara lain mengacu pada kualitas produk atau jasa. Pasien akan merasa puas bila hasil evaluasi mereka menunjukkan bahwa produk atau jasa yang digunakan berkualitas.
Selain itu persepsi pasien terhadap kualitas poduk atau jasa dipengaruhi oleh dua hal yaitu kenyataan kualitas poduk atau jasa yang sesungguhnya dan komunikasi perusahaan terutama iklan dalam mempromosikan rumah sakitnya. Kualitas pelayanan memegang peranan penting dalam industri jasa. Pasien akan merasa puas jika mereka memperoleh pelayanan yang baik atau sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu faktor emosional juga mempengaruhi pasien yang merasa bangga dan yakin bahwa orang lain kagum terhadap dirinya bila memilih rumah sakit yang sudah mempunyai pandangan “rumah sakit mahal”. Persepsi pasien terhadap hal ini cenderung akan mempengaruhi tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
Ada beberapa jenis – jenis pelayanan di rumah sakit yang kualitasnya selalu dinilai oleh pasien, dan salah satunya adalah pelayanan keperawatan. Tim Keperawatan merupakan anggota tim kesehatan garda depan yang menghadapi masalah kesehatan klien selama 24 jam secara terus menerus (Aljafar, 2009). Tim pelayanan keperawatan memberikan pelayanan kepada klien sesuai dengan keyakinan profesi dan standar yang ditetapkan. Hal ini ditujukan agar pelayanan keperawatan yang diberikan senantiasa merupakan yang aman serta dapat memenuhi kebutuhan dan harapan klien. Agar kebutuhan pasien terpenuhi, salah satu tindakan yang diharapkan adalah perawat dapat melakukan hubungan terapeutik dengan pasien. Untuk membina hubungan yang terapeutik perawat harus menguasai tehnik dan sikap komunikasi terapeutik selama memberikan asuhan keperawatan kepada pasien (Kelliat, 1996).
Komunikasi terapeutik adalah suatu pengalaman bersama antara perawat - klien yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien. Seorang perawat tidak akan dapat mengetahui kondisi klien jika tidak memiliki kemampuan menghargai keunikan klien. Tanpa mengetahui keunikan masing-masing, terutama terkait ke-butuhan klien, perawat juga akan kesulitan memberikan bantuan kepada klien dan mengatasi masalah klien. Sehingga perlu metode yang tepat dalam mengkomodasi agar perawat mampu mendapatkan pengetahuan yang tepat tentang pasien. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan perawat dapat menghadapi, mengpersepsikan, bereaksi dan menghargai keunikan klien (Mundakir, 2006).
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan peneliti di rumah sakit Haji Medan, dengan tehnik wawancara pada 10 pasien ditemukan beberapa keluhan dari pasien. Keluhan tersebut antara lain terkait dengan buruknya pelayanan perawat, sedikitnya kunjungan dokter pada pasien rawat inap. Buruknya pelayanan peawat yang dirasakan pasien terutama dari sikap, keramahan dan kemampuan komunikasi yang kurang santun.
Hasil penelitian melalui survey CRC (Citizen Report Card) ICW pada bulan November 2009. dengan sampel 738 pasien miskin (pasien rawat inap dan jalan yang memegang kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Keluarga Miskin (Gakin) dan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM)) di 23 rumah sakit yang ada di lima daerah (Jakarta, Bogor Depok, Tanggerang, Bekasi), menunjukkan bahwa pasien miskin menyatakan bahwa pengurusan administrasi rumah sakit masih rumit dan berbelit-belit (28,4 persen) dengan antrian yang panjang (46,9%). Pasien rawat inap misalnya mengeluhkan rendahnya kunjungan dan disiplin dokter terhadap mereka. Sedangkan pasien perempuan rawat inap mengeluhkan sikap perawat yang kurang ramah dan simpatik terhadap mereka (65,4%) (KPK Online Monitoring System, 2009).
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya kita dapat melihat bahwa ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan salah satunya dipengaruhi oleh faktor komunikasi terapeutik perawat daalam memberikan asuhan keperawatan. Banyak yang mengira atau berpendapat bahwa komunikasi te-rapeutik identik dengan senyum dan bicara lemah lembut. Pendapat ini tidak salah tetapi terlalu menyederhanakan arti dari komunikasi terapeutik itu sendiri, karena inti dari komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan untuk terapi (Suryani, 2005).
Adapun manfaat dari komunikasi terapeutik itu sendiri adalah membantu pasien dan untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya dengan hal – hal yang diperlukan. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan egonya. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri dalam hal peningkatan derajat kesehatan. Mempererat hubungan atau interaksi antara klien dengan terapis (tenaga kesehatan) secara profesional dan proporsional dalam rangka membantu penyelesaian masalah klien (Mundakir, 2006).
Berdasarkan studi literatur di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang ” Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat Terhadap Kepuasan Pasien Di Rumah Sakit Haji Medan.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas masalah yang dapat dirumuskan adalah :
2.1. Mengidentifikasi bagaimana komunikasi terapeutik perawat di rumah sakit Haji Medan?
2.2. Mengidentifikasi bagaimana kepuasan pasien di rumah sakit Haji Medan ?
2.3. Menganalisis Bagaimana pengaruh komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di Rumah Sakit ?
3. Tujuan Penelitian
3.1. Tujuan Umum
Mengidentifikasi pengaruh komunikasi terapeutik terhadap tingkat kepuasan pasien di Rumah Sakit Haji Medan.
3.2. Tujuan Khusus
3.2.1. Untuk Mengidentifikasi penerapan keterampilan komunikasi terapeutik perawat di Rumah Sakit Haji Medan.
3.2.2. Untuk Mengidentifikasi kepuasan pasien di Rumah Sakit Haji Medan.
3.2.3. Untuk menganalisis pengaruh komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di Rumah Sakit Haji Medan.
4. Manfaat Penelitian
4.1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan perawat dalam meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan kepada pasien.
4.2. Hasil penelitian diharapkan dapat berguna bagi perawat dalam membina hubungan yang terapeutik dengan klien.
4.3. Sebagai bahan masukan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas kepada pasien, seperti setiap melakukan terapi kepada pasien perawat harus melibatkan kerjasama dengan keluarga atau pasien itu sendiri.
4.4. Sebagai bahan atau data dasar untuk penelitian selanjutnya yang lebih spesifik seperti efektifitas komunikasi terapeutik pada anak remaja.
Langganan:
Postingan (Atom)

